Ramai Budidaya Sayur Saat Pandemi
Merdeka.com - Merebaknya pandemi COVID-19 membuat aktivitas kebanyakan orang dilakukan di rumah. Aktivitas di rumah ini kemudian membuat mereka memiliki hobi baru, salah satunya budidaya sayuran.
Tak hanya sekadar hobi, budidaya sayuran bisa mendatangkan banyak manfaat, salah satunya adalah kemandirian pangan. Apalagi, selama wabah COVID-19, kondisi ekonomi sedang terpuruk dan daya beli masyarakat, termasuk untuk membeli kebutuhan sehari-hari, menurun drastis.
Oleh karena itulah, kemandirian pangan menjadi hal yang penting. Apalagi, masyarakat harus hidup sehat agar imun bisa bertahan melawan serangan Virus Corona. Namun sayang, kebutuhan sayur dan buah di Indonesia masih rendah.
“Di tahun 2014, hanya 40 kg sayur per kapita per tahun dan 35 kg buah per kapita per tahun. Kemudian di tahun 2018, masih tidak jauh dari angka tersebut. Padahal menurut Food and Agriculture Organization, (FAO), agar masyarakat hidup sehat, Indonesia harus mengonsumsi sayuran minimal 91,25 kg dan buah sebanyak 73 kg per kapita per tahunnya,” papar Dosen Ilmu Tanah UGM, Ir. Mulyono Nitisapto M.Sc., dikutip dari Kagama.co pada Rabu (10/6).
Untuk itulah aktivitas berkebun atau budidaya sayuran menjadi hal yang penting. Menurut Mulyono, sebelum menanam sayuran, perlu diperhatikan beberapa hal penting agar sayuran bisa berhasil dipanen.
1 dari 7 halaman
Hal yang Harus Diperhatikan Sebelum Budidaya Sayurharis kurniawan
©istimewa
Mulyono menjelaskan ada unsur esensial yang harus diperhatikan sebelum memulai budidaya sayuran. Salah satunya adalah unsur hara yang terdapat di dalam tanah dan air.
Unsur selanjutnya adalah faktor iklim. Mulyono menjelaskan, tanaman membutuhkan radiasi matahari untuk bisa tumbuh. Selain itu juga dibutuhkan karbondioksida yang menjadi syarat terjadinya fotosintesis.
2 dari 7 halaman
Pupuk yang Digunakanpupuk indonesia
istimewa ©2019 Merdeka.com
Menurut Mulyono, pupuk yang disarankan untuk budidaya sayuran adalah pupuk organik, terlebih khusus lagi pupuk kandang. Pupuk kandang yang baik digunakan adalah dari kandang ayam, kemudian diikuti kandang kambing atau kandang sapi.
“Jadi, budidaya sayuran yang disarankan itu lebih mengarah ke pertanian organik dengan menggunakan pupuk kompos atau kandang dan menghindari penggunaan pestisida,” jelas Mulyono dikutip dari Kagama.co.
3 dari 7 halaman
Model Penanaman5 macam hidroponik solusi berkebung di lahan sempit
©2020 Merdeka.com
Menurut Mulyono, aktivitas budidaya sayuran bisa dilakukan baik di desa maupun kota. Namun karena semakin terbatasnya air dan lahan kosong di wilayah perkotaan, maka penanaman dilakukan dengan menggunakan pot, baik itu pot plastik, kaleng bekas, poly bag, dan juga planter bag.
“Ini tidak perlu lahan sama sekali. Media tanaman tersebut tinggal kita gantungkan di tembok. Yang penting tembok bisa terkena sinar matahari,” kata Mulyono.
4 dari 7 halaman
Sistem Penanaman di Lahan Sempithidroponik
©2020 Merdeka.com
Model penanaman sayuran dengan memanfaatkan media yang ada itu biasa disebut sistem pertanian vertikultur. Dengan sistem ini, masyarakat bisa menanam sayuran di lahan sempit dengan memanfaatkan bidang vertikal seperti tembok dan pipa pralon besar.
Dalam sistem ini, media tanam ditata secara bertingkat sehingga jumlah sayuran yang ditanam bisa berjumlah banyak, sama halnya ketika menggunakan media tanah untuk menanam.
“Air juga lebih efisien mengalir dengan sistem ini. selain itu, potensi untuk mendapatkan asupan sinar matahari juga lebih tinggi,” terang Mulyono.
5 dari 7 halaman
Langkah-Langkah Budidaya Sayursd mengenal hidroponik di balai kota farm
©Liputan6.com/Faizal Fanani
Untuk melakukan budidaya sayur dengan sistem vertikultur, langkah pertama yang harus dilakukan adalah dengan membuat dulu media tanamannya. Setelah itu ambil tanah dan campur dengan pupuk kandang yang telah disiapkan.
Mulyono menjelaskan, pupuk yang dimasukan yaitu sebesar satu sekop kecil agar media tanam tidak terlalu padat. Setelah tanah dan pupuk dicampur merata, barulah kemudian dimasukan ke media tanaman. Proses selanjutnya, media tanam yang telah diisi pupuk itu dimasukan benih tanaman dan kemudian disiram air.
“Bagi yang tinggal di wilayah dengan tanah lempung, ini mungkin jadi masalah. Jika memungkinkan tanah ini harus dicampur dengan pasir dulu agar bisa menjadi media tanam,” jelas Mulyono.
6 dari 7 halaman
Penggunaan Media Tanamhidroponik
©2020 Merdeka.com
Menurut Mulyono, media tanam yang digunakan menyesuaikan dengan sayuran yang hendak ditanam. Bagi yang ingin menanam sayuran kecil seperti daun bawang, sawi, dan seledri, media tanamnya bisa menggunakan pipa peralon atau bambu.
Sementara itu persemaian benih untuk media tanaman tunggal bisa disemai dulu bibitnya satu per satu. Jika menggunakan media yang agak besar, benih yang disemai bisa lebih dari satu namun harus diberi jarak.
7 dari 7 halaman
Rutin disiramilustrasi berkebun
© satoridesigns.net
Setelah disemai, langkah selanjutnya adalah menutup tanaman dengan kain basah selama satu sampai dua malam. Bibit akan tumbuh dalam waktu tiga minggu. Setelah itu, bibit dipindahkan ke media tanam yang baru.
Menurut Mulyono, agar bisa tumbuh dengan baik, tanaman harus ditaruh di lokasi yang teduh selama satu sampai dua hari. Setelah itu barulah tanaman disiram sebanyak 1-2 kali dalam sehari.
